Mulyanti’s Blog

materinya Bu, ke-2 (tugas mph kelompok)

  1. LATAR BELAKANG MASALAH

Persoalan rokok adalah persoalan yang kompleks. Disejumlah Negara rokok adalah gaya hidup. Gaya hidup yang selalu diperbarui citranya dan ditawarkan dengan sangat gencar. Demikian pula, iklan promosi rokok selalu mengusung gaya hidup sebagai alasan untuk merokok karena mereka tau konsumen muda dapat terpikat dengan proposisi ini.

Kebiasaan merokok nampaknya telah menjadi fenomena sosial yang cukup luar biasa. Dalam berbagai kesempatan kita selalu menyaksikan seseorang sedang merokok. Dari lingkungan masyarakat kecil hingga masyarakat elit di seluruh dunia, banyak perokok bertebaran.

Sementara di Indonesia, budaya merokok ini telah menjadi fenomena sosial yang luar biasa pula. Para pecandu rokok cukup memperhatinkan seolah tidak mengenal etika sosial. Setiap waktu kita temukan seseorang sedang merokok di sembarang tempat tanpa memperhatikan aspek negatif yang dapat ditimbulkan dari perbuatan mereka. Para perokok baik yang tergolong miskin hingga terkaya, mereka yang berpendidikan maupun yang tidak berpendidikan sama–sama tidak mengindahkan etika sosial selama ini dengan merokok sembarangan.

Merokok merupakan hak pribadi seseorang. Namun, sebaliknya menghirup udara bersih dan bebas asap rokok  juga merupakan hak azasi bukan perokok. Hal ini memang dilematis. Kebiasaan atau tatakrama merokok belum sepenuhnya disadari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Namun kebanyakan orang mengabaikan begitu saja peringatan: public warning seperti; bahaya merokok bagi kesehatan, minuman berakohol, bahaya kegemukan akibat makan junk-food yang berlebihan. Masih saja kebanyakan perokok tetap melampiaskan kebiasaan merokok tanpa mengenal tempat dan waktu sekalipun di kebanyakan Negara di dunia, termasuk di Indonesia, telah diberlakukan larangan batasan merokok di tempat-tempat umum.

Mungkin masyarakat sudah mengerti bahanya, karena dalam setiap bungkus rokok ada peringatan: merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kahamilan dan janin

Semuanya sesungguhnya adalah semacam pola pikir seseorang untuk bersikeras tidak mau menyadari apa yang sebenarnya tidak baik untuk terus dilakukan. Dengan demikian muncul pikiran guna merasionalisasi untuk pembenaran kebiasaan buruk diri sendiri. Lebih lanjut diungkapkan, bahwa sampai sisi psikologis yang melatarbelakangi resiko atas suatu perilaku benar–benar dapat dimengerti, maka orang tidak akan menyerah diri guna merubah perangai buruknya, semisal kebiasaan merokok. Meskipun kebiasaan merokok adalah kebiasaan yang paling sulit dihilangkan, karena rokok itu adalah narkoba juga. Jadi kecanduan adalah suatu point yang sangat sulit dihilangkan, apalagi pada perokok berat dan sudah lama.

Peraturan Daerah (Perda) tentang Pengendalian Pencemaran Udara (PUU) yang disahkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, dianggap terlalu terburu – buru. Selain kurang disosialisasikan, proses pembuatan perda tersebut juga dinilai belum mengakomodasi kepentingan semua lapisan.

Pemprov DKI dan DPRD mengambil langkah yang sangat terburu – buru mensahkan Perda PPU tersebut sebelum ada kajian mendalam tentang kultur masyarakat Jakarta. “Perda ini harusnya bisa mengakomodir kepentingan seluruh lapisan. Dalam hal ini Pemprov DKI juga harus melakukan penelitian terlebih dahulu dengan melibatkan ahli sosiologi dan budaya terkait dengan efektivitas dari perda ini sendiri.

Kesan terburu–buru ini, akan menghilangkan subtansi dan itikad baik yang telah dilakukan Pemprov DKI ini di mata masyarakat.”Asumsi negatifnya, bisa saja masyarakat menuding perda ini sengaja dikeluarkan terkait dengan proyek pengadaan fasilitas sosial ruang bebas rokok di gedung – gedung perkantoran milik pemerintah DKI Jakarta, gedung perkantoran umum, mal, pusat perbelanjaan dan lainnya. Hampir sebagian besar Pemprov DKI masih kurang melakukan sosialisasi tentang keberadaan dan isi Perda PPU yang termasuk di dalamnya larangan merokok di tempat umum serta mewajibkan pemilik kendaraan untuk melakukan uji emisi.

Dengan ancaman denda Rp 50 juta atau kurungan selama 6 bulan, Pemprov DKI untuk terlebih dahulu memberikan waktu adaptasi kepada masyarkat sebelum menjatuhkan sanksi. Persoalan pengawasan pasti akan menjadi problem terberat yang dihadapi Pemprov DKI.”Membuat perda memang mudah tapi bagian terberat justru terletak pada pengawasannya”.

Dalam Perda PPU antara lain diatur larangan merokok di tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja dan tempat yang secara spesifik sebagai tempat proses belajar mengajar, sarana kegiatan anak, tempat ibadah dan angkutan umum.

Setelah ditetapkan menjadi perda selama setahun, Pemda DKI Jakarta akan melakukan sosialisasi dan menyiapkan perangkat dan fasilitas yang diperlukan.

Sebanyak 12 lembaga swadaya masyarakat (LSM) akan mengadakan sweeping ketujuh tempat larangan merokok yang di atur dalam pergub No. 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok dan sebagai implementasi dari perda No. 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Sweeping akan dilakukan pada tanggal 17 – 26 November 2008 ke tempat umum, tempat kerja, tempat proses belajar mengajar, tempat pelayanan kesehatan, arena kegiatan anak – anak, tempat ibadah dan angkutan umum.

Sweeping ini bertujuan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa pemprov DKI dan LSM sangant peduli terhadap kebutuhan warga Jakarta untuk mendapatkan udara bersih dan sehat.

  1. PERUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana pendapat masyarakat dengan dikeluarkannya perda DKI No. 2 Tahun 2005?
  2. Bagaimana peranan perda DKI No. 2 Tahun 2005 dalam masyarakat?
  1. TUJUAN
  1. Untuk mengetahui dan memahami pendapat masyarakat mengenai dikeluarkannya perda DKI No. 2 Tahun 2005.
  2. Untuk mengetahui dan memahami peranan perda DKI No. 2 Tahun 2005 dalam masyarakat.
  1. KERANGKA KONSEPSIONAL

KAWASAN DILARANG MEROKOK

Angkutan umum menurut pasal 12 yaitu:

  1. Pengemudi dan/atau kondektur wajib memelihara dan meningkatkan kualitas udara yang sehat dan bersih. Bebas dari asap rokok di dalam kendaraannya.
  2. Penandaan atau petunjuk berupa tulisan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, di tempat yang dinyatakan tidak boleh merokok adalah “KAWASAN DILARANG MEROKOK”, sesuai dengan contoh sebagaimana tercantum dalam lampiran I Peraturan Gubernur ini.
  3. Penandaan atau petunjuk berupa gambar dan/atau symbol sebagaimana tercantum dalam lampiran II Peraturan Gubernur ini.
  4. Penandaan atau petunjuk berupa gambar dan/atau symbol sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, memberikan pengertian Kawasan Dilarang Merokok atau Kawasan merokok, sesuai dengan contoh sebagaimana tercantum dalam lampiran III Peraturan Gubernur ini.
  1. METODE PENELITIAN

1.  Data

Data yang digunakan oleh penulis adalah data primer. Data primer adalah data diperoleh secara langsung oleh peneliti dari sumber data. Dalam penelitian hukum, data primer dapat berupa informasi/keterangan mengenai persepsi/kesadaran/pengetahuan hukum masyarakat yang diperoleh dari hasil kuesioner dan pengamatan penelitian.

  1. Sumber data

Sumber data yang diperoleh oleh penulis adalah informasi mengenai tingkat kesadaran masyarakat akan larangan merokok di kendaraan umum.

  1. Pengumpulan data

Pengumpulan data yang dilakukan penulis adalah teknik penyebaran kuesioner dan pengamatan penelitian.

  1. Pengolahan dan analisis data

Pengolahan dan analisis data yang digunakan oleh penulis adalah data kualitatif. Data kualitatif berupa hasil pengumpulan data berupa kuesioner.

  1. Cara penarikan kesimpulan

Cara penarikan kesimpulan yang dilakukan oleh penulis adalah pola pikir induktif.

F. HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian didapat dengan cara kuesioner kepada masyarakat lingkungan sekitar terminal grogol Jakarta barat. Hasil kuesioner yang kami bagikan kepada masyarakat lingkungan sekitar terminal grogol Jakarta barat adalah berupa pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah anda mengetahui adanya Perda DKI no.2 tahun 2005 ?
  1. Bagaimana dengan adanya Perda tentang rokok, apakah anda setuju atau tidak?
  1. Menurut anda apakah Perda ini sudah berjalan dengan baik ?
  1. Apakah anda mengetahui tentang sanksi dari Perda larangan merokok ini?
  1. Apakah menurut anda pemerintah sudah menyediakan fasilitas yang memadai bagi perokok ?

G. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan analisis dari penelitian yang telah dilakukan oleh penulis, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. bahwa dengan dikeluarkannya Perda DKI no.2 tahun 2005 dapat disimpulkan bahwa Perda tersebut bukan merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pencemaran udara. Karena sebenarnya akar dari permasalahan Perda tersebut adalah masalah kesadaran pada diri masyarakat. Hal tersebut tidak bisa diatasi hanya dengan melarang seseorang untuk tidak merokok ditempat umum karena pada kenyataanya masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui dan tidak melaksanakan Perda tersebut. Dan itu akan menambah tingkat pencemaran udara serta tidak menyelesaikan masalah dan semakin memburuk.
  2. penerapan Perda DKI no.2 tahun 2005 pada dasarnya Perda tersebut tidak bisa diterapkan secara efektif terhadap masyarakat sehingga jika pemerintah DKI mengeluarkan suatu peraturan harus memperhatikan dan mengawasi pelaksanaan peraturan tersebut serta diikuti dengan sanksi yang tegas. Hasil dari penelitian juga menyatakan bahwa masih minimnya sosialisasi yang dilakukan oleh Pemda tentang Perda DKI no.2 tahun 2005 sehingga masih banyak dari masyarakat belum mengetahui akan laranga dan sanksi yang tercantum atau terdapat dalam Perda tersebut. Dan selain itu Pemda juga harus secepatnya merealisasikan pembuatan tempat-tempat khusus yang digunakan oleh para perokok sehingga dapat mengurangi pencemaran udara.

Saran dari kami yaitu :

  1. sebaiknya baik pemerintah maupun masyarakat saling mendukung dengan cara menjalankan perannya masing-masing sehingga peraturan tersebut dapat berjalan dengan baik sebagaimana mestinya.
  2. pemerintah harus tegas dalm memberikan sanksi terhadap pelanggar yang tidak mematuhi peraturan tersebut.
  3. sebaiknya pemerintah menyediakan fasilitas yang memeadai di berbagai tempat umum untuk menunjang terlaksananya Perda DKI no. 2 tahun 2005.

H. DAFTAR PUSTAKA

Perda DKI no.2 tahun 2005 tentang Pencemaran Udara

I. LAMPIRAN

Pertanyaan Kuesioner

NAMA              :

PEKERJAAN    :

  1. Apakah anda mengetahui adanya Perda no. 2 tahun 2005 ?

□ ya                                        □ tidak

  1. Bagaimana dengan adanya Perda tentang rokok apakah anda setuju atau tidak ?

□ ya                                        □ tidak

  1. Menurut anda apakah Perda ini sudah berjalan dengan baik ?

□ ya                                        □ tidak

  1. Apakah anda mengetahui tentang sanksi dari Perda larangan merokok ini ?

□ ya                                        □ tidak

  1. Apakah menurut anda pemerintah sudah menyediakan fasilitas yang memadai bagi perokok ?

□ ya                                        □ tidak

Foto-foto

PELAKSANAAN PERDA DKI NO. 2 TAHUN 2005 TENTANG PENCEMARAN UDARA TERHADAP LARANGAN MEROKOK DI KENDARAAN UMUM

( STUDI DI KAWASAN TERMINAL GROGOL JAKARTA BARAT)

DISUSUN OLEH :

Amalia Diar P (01006607)

Anggaraini Fajriah (01006063)

Baiq Oktaviani (01006098)

Dania Eka Havitri (01006123)

Jean Dina Riysti (01006269)

Lia Carolina (01006294)

Monica Saimima (01006334)

Ririn Fadhilla (01006461)

Syabrina Tisayani (01006532)

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA

2008

mulai pusiing..Crazy Rabbit Emoticonmulai aneh..Crazy Rabbit Emoticons

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

December 2016
M T W T F S S
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives

Categories

%d bloggers like this: